Daya Saing Pariwisata

Original Source Here

Pariwisata, travel, dan hospitality menjadi salah satu dari sekian banyak industri yang paling terdampak pandemi Covid-19. Secara karakteristiknya, industri ini secara konstan akan terus berubah. Oleh karena itu diperlukan adaptasi dan ketangkasan yang baik untuk dapat tetap berdaya saing.

Berbicara mengenai daya saing dalam industri pariwisata, ada sebuah konsep menarik yang dinamakan Tourism Attractions-Basics-Context (TABC). Model sederhana ini berakar dari teori hirarki kebutuhan Maslow. Oleh karenanya, model ini dapat menangkap kebutuhan, keinginan, dan motivasi wisatawan untuk berwisata. Termasuk di dalamnya manfaat apa yang mereka cari di sebuah destinasi wisata.

Konsep pertama adalah Tourism Attraction (TA). Konsep ini terdiri dari seluruh unsur yang dimiliki oleh sebuah tempat wisata yang dapat menarik wisatawan untuk datang. Unsur tersebut dapat berupa atraksi unik, keajaiban alam, kuliner, tempat bersejarah, maupun situs berskala dunia. Dalam teori hirarki piramida Maslow, konsep ini memenuhi kebutuhan sosial dan aktualisasi diri. Hal ini apabila dikelola dan dioptimalkan dengan baik oleh pengelola, akan memberikan keunggulan kompetitif yang tinggi.

Konsep kedua adalah Tourism Basic (TB). Konsep ini memenuhi kebutuhan psikologis dalam teori Maslow. Apabila TA dapat menumbuhkan motivasi untuk berwisata, TB mendukung motivasi tersebut. Unsur yang penting dalam TB antara lain aksesibilitas seperti bandara dan jalan raya, sarana transportasi, akomodasi, informasi umum seperti ulasan atau website, dan jaringan telekomunikasi. Unsur-unsur tersebut dapat mempermudah wisatawan untuk berkunjung dan memperoleh informasi.

Selanjutnya adalah Tourism Context (TC). Konsep ini terdiri dari faktor-faktor yang membuat wisatawan lebih berhati-hati saat berwisata. Daerah atau negara dengan tingkat indeks kejahatan yang tinggi kemungkinan tidak akan banyak menarik wisatawan. Termasuk daerah dengan tingkat kerawanan kebencananaan yang juga tinggi. Adanya wabah penyakit atau pandemi seperti saat ini juga menjadi faktor penurun intensitas pariwisata. Hal ini sejalan dengan teori Maslow yang menyatakan bahwa keamanan adalah kebutuhan vital.

TP merupakan sebuah indikator relatif untuk mengukur kinerja destinasi terhadap jumlah kunjungan wisatawan domestik dan internasional, jumlah pengeluaran, serta jumlah waktu untuk menginap (malam) yang dihabiskan wisatawan. Mengukur TP sangat penting dalam menentukan seberapa kompetitif suatu destinasi. Secara keseluruhan, model TABC ini secara bersamaan memiliki pengaruh langsung (baik negatif dan positif) terhadap TP pada suatu destinasi wisata.

Model TABC ini memiliki kemampuan untuk menangkap kebutuhan, keinginan, dan motivasi wisatawan dalam berwisata (permintaan pasar atau market demand). Hal ini pada gilirannya akan menghasilkan TP yang lebih baik. Pengembangan destinasi wisata semestinya tidak berawal dari manajemen destinasi, melainkan fokus pada pelanggan (wisatawan), apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana mengembangkan pemasarannya.

TP adalah indikator kunci untuk menentukan untung atau rugi wisatawan. Indikator ini menunjukkan betapa pentingnya pariwisata termasuk dampaknya terhadap PDB. Sebagai contoh, kondisi pandemi saat ini mengakibatkan turun drastisnya jumlah kunjungan wisatawan domestik dan internasional di dua pulau destinasi populer di Indonesia; Bali dan Lombok. TP Bali dan Lombok menurun drastis. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi negatif di dua provinsi tersebut. Bisa dipahami karena kedua provinsi itu sangat bergantung pada sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah.

Sumber: Diolah dari Manrai et.al. (2020) | Journal of Economics, Finance and Administrative Science

AI/ML

Trending AI/ML Article Identified & Digested via Granola by Ramsey Elbasheer; a Machine-Driven RSS Bot

%d bloggers like this: